Hatiku masih terombang-ambing
Lucunya aku masih bingung, antara meninggalkanmu atau masih bersamamu..
Bukankah kita sudah bercerai?
Bukankah kamu yang minta kita berpisah?
Kok bingungnya aku malah meninggalkanmu atau tidak?
Terkadang, aku pikir meninggalkanmu adalah langkah terbaik bagiku dan kamu
Namun, setelah berkali-kali kau menanyakan padaku
dan berulang kali aku kukuh untuk tetap hidup tanpa kamu
Kini aku luluh, hanya karena tangismu yang menyatakan kedukaanmu tanpa diriku
Mengapa???
Berulang kali kau pun bilang, sudah ada lelaki yang melamarmu..
Mengapa tak jua kau biarkan aku sendiri
Aku tak tahu, apakah aku takut kehilangan kamu atau takut kamu terluka
apakah aku takut hidup tanpa kamu atau aku takut kehilangan Shaila..
Takut hidup tanpa kamu.....????
Bukankah aku sudah kehilangan kamu ???
Apa yang membuat hatiku risau seperti ini..
Istikhoroh sudah ku lakukan, namun tetap saja hati ini bingung menetapkan pilihan
Semua ikatan sudah aku lepaskan agar aku bisa bebas mengikuti kata hatiku
namun apa yang harus aku ikuti jika hati ini bolak-balik tak karuan..
Cintakah..???
Definisikan cinta untukku ?
Artinya begitu tak jelas bagiku
cinta.. apakah dia hadir sebagai rasa ingin memiliki dan menguasai?
Kadang aku pikir, aku masih cinta dia karena aku ingin dia bahagia.
Manis bukan kata-kataku diatas..
tapi coba telaah kembali, "Aku ingin dia bahagia"
Apakah itu bentuk dari kata "aku ingin mengendalikan dia" yang berarti menguasai?
Mengapa aku katakan demikian..
karena ada kesombongan dalam kalimat itu, bisakah kita membuat orang lain bahagia?
Standar dari "bahagia" adalah senyum atau tawa.
Namun, pernahkah kita tersenyum tanpa rasa bahagia hadir di hati kita??????????
Sekarang,
dari beberapa masalah yang aku kaji terlalu dalam
dan dari kajian yang terlalu dalam itu justru = masalah baru.
karena dari yang saya lihat dan rasakan, pengkajian masalah yg berlebihan membuat kita terlalu fokus
pada sebuah masalah dan melupakan masalah lainnya.
akhirnya, kita butuh waktu yang lebih lama untuk pindah ke masalah lain bersamaan dengan pemunculan masalah-masalah baru, dan dalam hidup, masalah tidak dapat di "pause" sedetikpun.
Apakah itu berarti aku harus "mengambang" ?
Ah, kenapa aku harus merasa terganggu dengan kata "ngambang"
Mengapa aku tidak nyaman dengan sesuatu yang tidak pasti, sementara ketidakpastian dlm masalah lain bisa aku lepaskan begitu saja..
RESET.. RESET.. RESET..
Mereset sebuah komputer memang akan membuat komputer itu kembali berjalan lancar.
Tapi kenapa dia lancar? karena beberapa program yg sebelumnya ia jalankan setelah di reset tidak lagi dijalankan. Namun ketika program-program tersebut satu persatu kembali kita jalankan, bukankah "lancar" itu perlahan menjadi "berat" bahkan bisa kembali "hang" dan harus RESET kembali?!
Sedangkan jika kita terlalu sering me"RESET" bukankah komponen dalam komputer tersebut pelan-pelan akan mulai rusak tidak lagi secara software namun hardware.
Anggaplah Software = pemikiran, dan hardware = tindakan.
Artinya, terlalu sering mereset, bukan hanya membuat cara berpikir kita berubah, tapi cara menindaknya pun bisa menjadi salah!!
Lihat tulisan aku dari pertama..
begitu kacau bukan?!
Tidak ada fokus disini, karena masalah yang ingin aku tumpahkan pun tidak fokus.
BISA JADI SEBENARNYA TIDAK ADA MASALAH YANG PERLU DIPERMASALAHKAN..!!!!!
lalu kenapa aku harus mendalaminya terlalu serius????????
Karena kesombonganku untuk bisa mengendalikan masalah-masalah itu???
Yup, aku rasa pokok masalahku disitu, INGIN MENGENDALIKAN..!!!
Dari dulu aku ingin bisa mengendalikan apa yang aku rasakan dan orang lain rasakan
dan satu hal lagi, PERFECTSIONIS, ingin KESEMPURNAAN dalam apa yang ku lakukan.
Perfectsionisku pelan-pelan mulai ku hantam sendiri,
definisi-definisi hidupku tak lagi semuluk-muluk dulu
Namun yang paling susah adalah Perfectsionis dalam percintaan..
seolah sudah menjadi sebuah prinsip hidup yang lebih berharga daripada nyawa.
Dan tanpa aku sadari disaat ku benahi yg lain, perfectsionis cinta gw makin meninggi
Mungkin inilah penyebab hubungan ku jadi seperti ini.
Cintaku terlalu mengikat, penuh aturan plus keras kepala.
Parahnya aku merasa itu semua wajar dilakukan.
Semenjak aku menjatuhkan talak sampai akhirnya malah gantian digugat
aku berusaha menurunkan kadar egoku
Bahkan aku pernah menyerahkan urusan ini pada keluarga
namun semua gagal, seolah-olah tanpa campur tanganku, segalanya tidak dpt berjalan baik
Tetapi, langkahku pun ternyata tidak berjalan baik.
Ketika aku terima gugatan istriku, aku pikir aku memang sudah tidak bisa membahagiakan dia
Aku pikir juga aku tidak lagi bisa bahagia dengan dia
Dan aku berusaha mengkondisikan segalanya agar dia bahagia
berulang kali dia mnta aku memikirkan kembali hubungan kami
dan tanpa ragu aku selalu jawab, aku gak bisa, toh km lbh bahagia tnpa aku
dan aku merasa benar karena stiap habis ngomong gitu dia pun jwb kl dia tdk butuh cinta
dia bilang dia lebih nyaman hidup seperti itu
bahkan dia bilang ada lelaki yang siap menikahi dia dan keluarganya menerima..
Semua berjalan baik bukan?
Aku berhasil mengendalikan diriku dan kondisi aku dan dia ke tahap membahagiakan dia
Aku lupa tidak mengkaji sedikitpun perasaan dia yang seharusnya aku tahu
dari dulu aku lupa mengkaji hal itu, aku hanya ikut prasangkaku, perhitungan2 logisku yang ditunggangi pengandaian dalam skenario yang buruk.
Di suatu siang, kala lelahku terbalut tidur nyenyak di kasur
dia menelpon, beberapa saat kami ngobrol seperti biasa..
Lalu dia bilang sudah dilamar, dan hari pernikahan sudah siap
Bohong kalo aku bilang hatiku datar2 saja, tapi itu wajar mengingat hub kami yg sudah lama
dengan santai aku bisa bilang selamat, kamu sudah menemukan penggantiku yg lebih bisa membahagiakanmu..
Aku kira dia akan tertawa atau setidaknya dia akan marah karena jawabanku
tapi kali ini tidak, dia memilih menangis... lama..
aku kaget, dan aku memilih jujur kali ini.
Ku katakan, mo nikah kok nangis?
dia, senyum pelan sambil berusaha berhenti menangis, lalu bilang maaf.
"Kenapa minta maaf?" Jawabku, "Tidak ada yang salah dengan kamu mau nikah lagi, bukankah kita emang sudah lama berpisah?"
Dia jawab "Iya, tapi aku masih memikirkan kamu.."
"Sudahlah... itu masa lalu, kamu rengkuh masa depan kamu yang lebih baik. Aku melepasmu bukan biar kamu sedih, tapi biar kamu bahagia. Biarlah air mata yang menemani aku, asal kamu bahagia.."
Dia diam mndengar jawabku, "Kamu tahu apa?" jawabnya sedikit mengeraskan suara..
"kamu pikir aku bahagia? aku senang??? Kamu selalu begitu, kamu gak tahu hatiku.."
"Lah.. bukannya kamu bilang lebih baik hidup tanpa aku? Ingat apa yg kamu tulis di sms setiap aku bilang kt lbh baik tetap berpisah..? kamu bilang jg gpp kan?"
"Kapan?? emang aku bilang begitu?"
Aku senyum, "Lupa apa lupa?"
"Ahh.. terserahlah.. aku gak tahu mesti gimana.. aku udah shalat istikharah dan selalu kamu yang hadir dalam mimpiku.. AKU GAK BAHAGIA..!!!!..." Dia terus ceritakan semua kegetirannya..
Anjrittt, hatiku luluh saat itu. Cintaku seolah bersemi kembali, sungguh aku ingin dia bahagia..
bukankah dia yang gugat aku? jd itu artinya dia akan bahagia kalo tanpa ku.
Tapi aku juga masih belum bisa memberikan apa-apa, tidak bisa menjanjikan kalau aku bisa kembali bersama..
Aku sedang asyik dengan kesendirianku, meski kadang aku merasa sepi seperti ini tapi ini jauh lebih baik. aku tidak ingin menyakiti siapapun.
Akhirnya kuputuskan aku akan mencoba menemani dia, aku ingin membuat dia lebih lega.
Dia tidak jadi menikah dengan lelaki itu bukan karena aku melarang..
Tapi aku juga tidak serta merta balik bersamanya..
Entah karena apa, aku hanya merasa belum siap. Perasaan yang sama kala aku bersama wanita lain yang meminta keseriusanku...
Aku masih ingin sendiri..
Sampai rasa cinta ini bisa tumbuh kembali, entah untuk siapa....
Selengkapnya baca Aku, dalam dilema cinta..